“Aku saja biarpun jelek-jelek begini, biarpun temanku banyak
cowoknya, tapi kalau ada temanku yang omongannya buruk seperti itu nggak
bakalan kujadikan teman!”
“Ya.. jangan dilihat begitu. Yang penting kan bagaimana sikap mereka ke kita. Biarpun mereka itu suka ngomongnya buruk, biarpun mereka sifatnya buruk, asal mereka nggak mempengaruhi kita, asalkan mereka tetap baik sama kita, kenapa juga kita harus mempermasalahkan setiap kejelekan mereka?”
“Ya rugi sama jilbabnya!!”
“Iya sich, tapi kan orang juga nggak bisa dilihat dengan cara seperti itu. Lagipula, apa dikira selama ini teman-temanku itu baik-baik semua? nggak. Yang cewek banyak yang nggak bener, nggak tahu aturan, yang cowok juga banyak yang nakal.” ? ( maafkan aku kawan, jadi menjelekkan kalian..
)
“masa?? termasuk si …. yang rajin sholat itu?”
“Ya mungkin juga… tapi juga bisa juga nggak, kan gak ada yang tahu.” (ugh,, sebenernya aku tahu, tapi ya sudahlah… masa ya harus ku iya kan?? )
“sholatnya rajin begitu masih suka minum juga? ya kamu sebagai teman kan seharusnya mengingatkan. masa sudah bisa sholat koq masih nakal juga.”
“Sebenernya nggak di ingatkan juga mereka itu sudah tahu sendiri, aku juga heran kenapa mereka masih juga ngelakuin kesalahan itu.” (Dan sebenarnya QK juga sudah ingatkan… tapi semua keputusan kan kembali kepadanya.. hmm.. )
“ah pokoknya orang itu nggak bisa di lihat dari sudah rajin sholat atau belum, nggak bisa juga di lihat apa dia itu orang yang suka minum atau nggak, nggak bisa juga dilihat dari bagaimana cara dia menarik simpati seseorang”
(aahhh,,, ternyata penyakitku itu belum sembuh juga??? kapan aku bisa mulai percaya sama orang lain? tanpa perlu ada curiga buat mereka semua.)
“Ya.. jangan dilihat begitu. Yang penting kan bagaimana sikap mereka ke kita. Biarpun mereka itu suka ngomongnya buruk, biarpun mereka sifatnya buruk, asal mereka nggak mempengaruhi kita, asalkan mereka tetap baik sama kita, kenapa juga kita harus mempermasalahkan setiap kejelekan mereka?”
“Ya rugi sama jilbabnya!!”
“Iya sich, tapi kan orang juga nggak bisa dilihat dengan cara seperti itu. Lagipula, apa dikira selama ini teman-temanku itu baik-baik semua? nggak. Yang cewek banyak yang nggak bener, nggak tahu aturan, yang cowok juga banyak yang nakal.” ? ( maafkan aku kawan, jadi menjelekkan kalian..
“masa?? termasuk si …. yang rajin sholat itu?”
“Ya mungkin juga… tapi juga bisa juga nggak, kan gak ada yang tahu.” (ugh,, sebenernya aku tahu, tapi ya sudahlah… masa ya harus ku iya kan?? )
“sholatnya rajin begitu masih suka minum juga? ya kamu sebagai teman kan seharusnya mengingatkan. masa sudah bisa sholat koq masih nakal juga.”
“Sebenernya nggak di ingatkan juga mereka itu sudah tahu sendiri, aku juga heran kenapa mereka masih juga ngelakuin kesalahan itu.” (Dan sebenarnya QK juga sudah ingatkan… tapi semua keputusan kan kembali kepadanya.. hmm.. )
“ah pokoknya orang itu nggak bisa di lihat dari sudah rajin sholat atau belum, nggak bisa juga di lihat apa dia itu orang yang suka minum atau nggak, nggak bisa juga dilihat dari bagaimana cara dia menarik simpati seseorang”
(aahhh,,, ternyata penyakitku itu belum sembuh juga??? kapan aku bisa mulai percaya sama orang lain? tanpa perlu ada curiga buat mereka semua.)
**************************************************************************************************
Sepenggal percakapan yang membuatku kembali terpikirkan sebuah pertanyaan yang sudah lama nggak pernah ku ingat lagi : “Apa orang yang dulunya pernah melakukan kesalahan, di kemudian hari dia akan selalu dianggap bersalah?”
Andai ada seseorang yang dulunya pecandu
narkoba, lalu dengan bersusah payah dia menyudahi candunya…. apa
selamanya dia selalu di cap sebagai pecandu??
Andai ada seorang pemabuk yang mencoba
untuk bertobat, apa orang-orang di sekitarnya mampu menerima dirinya dan
memperlakukannya adil seperti yang lainnya?
Andai ada seseorang yang sukanya berzina,
lalu dia berhenti dari zinanya, menyesali perbuatannya… apa
lingkungannya bisa menerimanya?
Padahal mereka butuh kepercayaan dari
orang-orang di sekitarnya, mereka butuh sikap yang bisa menguatkan
mereka, apa lingkungannya bisa?
(aih,,, tulisan yang ngawur… tapi memang
itu yang selama ini sering jadi pertanyaan… ternyata kepercayaan itu
sangat penting ya kawan… Dan ketika kepercayaan itu hilang, apa ia dia
masih bisa kembali lagi? )
nb : gambar di ambil dari sini







